Definisi pembangunan pariwisata berkelanjutan bisa
memiliki makna beragam. Orang dari banyak bidang yang berbeda menggunakan
istilah berbeda di dalam konteks yang berbeda dan mereka mempunyai
konsep, bias dan pendekatan yang berbeda (Heinen dalam Sharpley,
2000:1).
TARI PERANG - ETNIK DAYAK - BORNEO ( KALIMANTAN ) - INDONESIA
WTO mendefinisikan pembangunan pariwisata
berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan wisatawan
saat ini, sambil melindungi dan mendorong kesempatan untuk waktu yang akan
datang. Mengarah pada pengelolaan seluruh sumber daya sedemikian rupa sehingga
kebutuhan ekonomi, sosial dan estetika dapat terpenuhi sambil memelihara
integritas kultural, proses ekologi esensial, keanakeragaman hayati dan sistem
pendukung kehidupan. Produk pariwisata berkelanjutan dioperasikan secara
harmonis dengan lingkungan lokal, masyarakat dan budaya, sehingga mereka menjadi
penerima keuntungan yang permanen dan bukan korban pembangunan pariwisata
(Anonim, 2000: XVI). Dalam hal ini kebijakan pembangunan pariwisata
berkelanjutan terarah padapenggunaan sumber daya alam dan penggunaan sumber
daya manusia untuk jangka waktu panjang. (Sharpley, 2000:10).Berkaitan dengan upaya menemukan keterkaitan anatara
aktifitas pariwisata dan konsep pembangunan berkelanjutan Cronin (dalam
Sharpley,2000:1) mengkonsepkan pembangunan pariwisata berkelanjutan
sebagai pembanguan yang terfokus pada dua hal, keberlanjutan
pariwisata sebagai aktivitas ekonomi di satu sisi dan lainnya
mempertimbangkan pariwisata sebagai elemen kebijakan pembangunan berkelanjutan
yang lebih luas. Stabler dan Goodall, dalam Sharpley, 2000:1) menyatakan
pembangunan pariwisata berkelanjutan harus konsisten dengan prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan. Lane (dalam Sharpley, 2000:8) menyatakan bahwa
pariwisata berkelanjutan adalah hubungan triangulasi yang seimbang
antara daerah tujuan wisata (host areas) dengan habitat dan
manusianya, pembuatan paket liburan (wisata), dan industri pariwisata, dimana
tidak ada satupun stakehorder dapat merusak keseimbangan. Pendapat yang hampir
sama disampaikan Muller yang mengusulkan suatu istilah, yaitu ‘magic
pentagon’ yang merupakan keseimbangan antara elemen-elemen pariwisata,
dimana tidak ada satu faktor atau stakeholder yang mendominasi. Prinsip dasar pembangunan pariwisata berkelanjutan
menurut Sharpley (2000:9-11) yang mengacu pada prinsip dasar pembangunan
berkelanjutan. Pendekatan yang holistik sangat penting. Untuk diterapkan
secara umum, pada sistem pariwisata itu sendiri dan khusus pada individu di
daerah tujuan wisata atau sektor industri. Selama ini meskipun pariwisata
diterima dan terintegrasi dalam strategi pembangunan nasional dan lokal,
namun fokus utama pembangunan pariwisata berkelanjutan masih ke arah produk
center. Tidak heran jika pada tingkat operasional sulit mengatur penerimaan
yang komplek, fragmentasi, pembagian multisektor dari keuntungan pariwisata
secara alamiah. Oleh karenanya menurut Forsyth (dalam Sharpley, 2000:9)
pariwisata berkelanjutan dalam prakteknya cenderung terfokus eksklusif
setempat, proyek pembangunan relatif berskala kecil, jangkauanya jarang
melebihi wilayah/lingkungan lokal atau regional, atau sebagai sektor industri
yang spesifik/khusus. Pada saat yang bersamaan, sektor yang berbeda dari
industri pariwisata mengalami perkembangan dalam berbagai tingkat,
mengadopsi kebijakan lingkungan dan meski kecil telah menunjukkan filosofi
bisnis dan pembangunan yang mengarah pada prinsip-prinsip keberlanjutan antar
industri. Menurut Sharpley peningkatan kebijakan pembangunan pariwisata
berkelanjutan sangat tergantung pada variasi faktor politik ekonomi yang dapat
menghalangi diterapkannya pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Aronsson (200:40) mencoba menyampaikan beberapa pokok
pikiran tantang intepretasi pembangunan pariwisata berkelanjutan,
yaitu :
- Pembangunan pariwisata berkelanjutan harus mampu mengatasi permasalahn sampah lingkungan serta memilislppki perspektif ekologis.
- Pembangunan pariwisata berkelanjutan menunjukkan keberpihakannya pada pembangunan berskala kecil dan yang berbasis masyarakat lokal/setempat.
- Pembangunan pariwisata berkelanjutan menempatkan daerah tujuan wisata sebagai penerima manfaat dari pariwisata, untuk mencapainya tidak harus dengan mengeksploitasi daerah setempat.
- Pembangunan pariwisata berkelanjutan menekankan pada keberlanjutan budaya, dalam hal ini berkaitan dengan upaya-upaya membangun dan mempertahankan bangunan tradisional dan peninggalan budaya di daerah tujuan wisata.
Pembangunan pariwisata berkelanjutan atau Sustainable
Tourism Development menurut Yaman dan Mohd (2004: 584) ditandai
dengan 4 kondisi, yaitu :
- Anggota masyarakat harus berpartisipasi dalam proses perencanaan dan pembangunana pariwisata.
- Pendidikan bagi tuan rumah, pelaku industri dan pengunjung/wisatawan.
- Kualitas habitat kehidupan liar, penggunaan energi dan iklim mikro harus dimengerti dan didukung.
- Investasi pada bentuk-bentuk transportasi alternative.
Sedangkan indikator yang dikembangkan pemerintah RI
tentang pembangunan pariwisata berkelanjutan (Agenda 21 sektoral, 2000) adalah
:
- Kesadaran tentang tanggung jawab terhadap lingkungan, bahwa strategi pembangunan pariwisata berkelanjutan harus menempatkan pariwisata sebagai green industry (industri yang ramah lingkungan), yang menjadi tanggungjawab pemerintah, industri pariwisata, masyarakat dan wisatawan.
- Peningkatan peran pemerintah daerah dalam pembangunan pariwisata.
- Kemantaban/keberdayaan industri pariwisata yaitu mampu menciptakan produk pariwisata yang bisa bersaing secara internasional, dan mensejahterakan masyarakat di tempat tujuan wisata.
- Kemitraan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pariwisata yang bertujuan menghapus/meminimalisir perbedaan tingkat kesejahteraan wisatawan dan masyarakat di daerah tujuan wisata untuk menghindari konflik dan dominasi satu sama lain. Hal ini juga didukung dengan memberi perhatian/pengembangan usaha skala kecil oleh masyarakat lokal.








0 komentar:
Post a Comment